Kaidah Cinta Imitasi

TAFSIR 1
Dari Mata Turun ke Hati. 
Istilah ini tidak heran dan tentunya sangat familiar, terutama bagi para lady killer (pemburu gadis). Karena  memang itulah yang menjadi slogannya.
Dengan langkah melenggang gagah ibarat Arjuna yang ditokohkan sebagai seorang laki-laki yang ganteng dan gagah perkasa sehingga terkesan menggoda bagi para wanita, seorang jejaka dengan lantang penuh percaya diri mengucap cinta pada seorang juwita, “Aduhai, sungguh dirimu telah menebar pesona ke dalam jiwa. Paras cantik wajahmu telah membuatku terpedaya oleh kekuasaan cinta. Sehingga sungguh sulit lidah untuk mengatakan kalau Aku cinta kamu, wahai juwita”.
Sang wanita yang dipanggil juwita dengan tersipu malu berkata, “Ahh…kamu bisa azzzzzzzzzzzzzza wahai kanda”.
 
“Duhai Dinda Juwita, demi keadaanku yang telah dikuasai oleh selaksa rasa, sungguh aku harus berkata betapa aku cinta kamu, Juwita”, tegas sang laki-laki yang bangga disebut kanda.
“Lantas……, darimana itu cinta datangnya, wahai kanda????” sang Juwita mulai menganalisa dan berharap kejelasan nyata.
“Dari mata turun ke hati”, jawab si kanda yang sangat PeDe.
“Sejak kapan itu?”, juwita mendesak.
Si cowok yang belagu arjuna membenarkan posisi duduknya, dengan sigap menghadap menatap mata juwita. Ibarat arjuna yang siap meluncurkan panah-panah asmaranya dari busur lidahnya: “Setiap pencuri pasti dihukum, karena mencuri bagian dari tindakan pidana alias jinayah. Tapi harus bagaimanakah daku menghukummu yang telah mencuri hatiku??? Sebab sejak pandangan pertama hatiku telah kau curi”
“Okkkkhhhho….okhhhooo……” si awewe batuk kaselek.
“Ah….kanda, cintamu palsu alias imitasi”, komentar Juwita.
“Lakadala…….., kenapa begitu dinda???? Cintaku tulus kepadamu alias cinta sejati”. Si kanda membela diri.
 “CINTA SEJATII????” Tukas juwita dengan mata melotot, seraya menegaskan, “Sejak kapan kanda mengenal cinta? Sejak kanda remaja, dewasa atau justru sekarang kanda baru mulai mengenal Cinta? Cinta sejati bukan atas keterpaksaan”.
 
“Tapi, kanda tidak merasa terpaksa atau dipaksa karena memang tiada yang memaksa”, si Kanda membela diri.
“Ya, memang tidak ada orang yanng memaksa”, lanjut juwita, “tapi, tidakkah kanda sadar kalau cinta kanda itu telah dipaksa oleh pandangan kanda. Artinya hati kanda telah ditundukkan oleh mata kanda, sementara cinta sejati lahir dari hati nurani yang murni bukan karena yang lainnya. Lantas bagaimana kanda bisa memimpin juwita sementara hati yang menjadi pemimpin diri kanda saja telah ditundukkan oleh mata yang sifatnya hanya sebagai pengantar informasi kepada hati. Pantaskah seorang Raja bisa diperalat oleh informannya???? Sejauh manakah kanda mengenal hati kanda sendiri, sementara pada pandangan semu saja telah yakin dan percaya tanpa ada tindakan lain yang sifatnya lebih mengarah pada ta’aruf yang mampu memberikan keyakinan yang pasti???? Dari mata turun ke hati, itulah cinta imitasi alias semu tanpa isi, kecuali basa basi tiada arti.” Juwita narik nafasnya, lalu mengambil keputusan, “Karena itu, silahkan kanda cari istri yang tergiur dengan puisi-puisi roman picisan yang hatinya tunduk pada pandangan”. 
 
“Hughhhh……………glekkkk”. Si kanda yang telah over PeDe diam tak berkutik. Kepala yang tegak gagah, kini nampak merunduk malu. Rupanya si juwita adalah perempuan berkarakter baik yang pernah mengenal sedikit filsatnya Ahmad Tafsir.
heuuuuuuppppp ahhhhh……………
bersambung
 

About Abdulloh Aziz

Penulis adalah seorang yang menyukai hal-hal baru yang unik, menarik. Menulis adalah salah satu hobi yang dijalani, karena dengan menulis walaupun diri mati tetapi akan tetap abadi.

View all posts by Abdulloh Aziz →

4 Comments on “Kaidah Cinta Imitasi”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *