Antara Individualis dan Sosialis

Adalah suatu nilai plus (kebaikan) tatkala dalam tiap langkah kaki yang kita hentakan dapat bermakna bagi orang-orang di sekitar kita. Dalam kehidupan bersosial di masyarakat, semestinya dari apa yang kita kerjakan, kita fikirkan bisa menghasilkan output yang bermanfaat.

Apa jadinya jika individualisme tak dapat kita pisahkan dengan sosialitas bermasyarakat. Walaupun terkadang naluri keegoan setiap manusia tak dapat kita elakan. Namun yang pasti pada hakikatnya setiap pribadi dalam sanubari paling dalam selalu saja berharap bisa bermanfaat, bukan bagi diri sendiri melainkan bagi orang-orang disekitar kita. Hal yang patut diwaspadai jika nilai-nilai ketimuran bangsa kita telah hilang. Yang ramah menjadi marah-marah, atau bahkan lebih dari itu.

Semangat persatuan kebhinekaan bangsa Indonesia ini harus kita budayakan, tak peduli agamanya apa, jenis kelaminnya apa, dan organisasinya. Jika seseorang berbuat kebaikan, orang tak akan bertanya apa agamamu, begitu kata gusdur. Yaa.. kebaikan apa saja yang dapat kita perbuat di hari ini, di detik ini juga. Semua akan berdampak dikemudian. Bukankah dalam literatur Islam menjelaskan manusia yang baik adalah yang dapat bermanfaat bagi orang lain?. Begitu juga dengan agama lain, semua mengajarkan kebaikan. Bukankah berjalan dalam satu rel mengerjakan kebaikan adalah hal yang bijak?

Kesampingkan ego yang membelenggu dalam diri, kita ini sama. Sama-sama manusia yang mengharapkan kebahagiaan. Ada hal yang patut kita perjuangkan bersama, yang bernama persatuan.

About Abdulloh Aziz

Penulis adalah seorang yang menyukai hal-hal baru yang unik, menarik. Menulis adalah salah satu hobi yang dijalani, karena dengan menulis walaupun diri mati tetapi akan tetap abadi.

View all posts by Abdulloh Aziz →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *